Around here, however, we don't
look backwards for very long
We keep moving forward, opening up new door and doing new things, because we're curious..
and curiosity keeps leading us down new paths
(Walt Disney)
Tuesday, August 26, 2008
Menafsir Politik, Menyingkap Makna
SAIFUL Mujani di mataku adalah pengamat politik yang hebat. Cara berpikirnya jernih dan tidak mau terjebak dengan fenomena politik yang gampang berubah. Fenomena yang gampang berubah itu, hanyalah di permukaan dari realitas yang sebenarnya. Jika potongan fenomena politik itu diibaratkan sekeping puzzle, maka Saiful sanggup menautkan semua puzzle itu menjadi satu bangunan yang jelas dipahami. Ia bisa menyingkap makna dan membuka mata publik apa sesungguhnya yang terjadi.
Saya menarik kesimpulan itu setelah menyaksikan komentarnya dalam Today’s Dialogue di Metro TV malam ini yang menghadirkan pembicara dari PDI (saya lupa namanya), Fahri Hamzah (PKS), serta Priyo Budi Santoso (Golkar). Sejak awal, saya sudah jenuh dan muak ketika masing-masing pembicara itu membahas rencana koalisi. Semua berapi-api membahas fenomena kedatangan Taufik Kiemas ke hajatan Golkar, kemudian Kiemas ke PKS. Semua pembicara itu sama mengatakan bahwa rencana koalisi itu demi membentuk pemerintahan yang stabil, demi menguatkan agenda kepentingan rakyat.
Yang paling bersemangat adalah Fahri Hamzah dari PKS. “Sudah saatnya kita meninggalkan kategorisasi politik yang sudah usang dari antropolog Clifford Geertz yang melihat abangan santri dan priyayi. Kategori aliran ini kemudian diterjemahkan Herbert Feith menjadi Islam, nasionalis, serta moderat. Kategori ini sudah usang dan memecah-belah kekuatan politik kita. Buktinya, PKS yang berhaluan Islam bisa duduk bersama Golkar serta PDIP yang berhaluan nasionalis. Marilah kita melakukan redefinisi dan membumikan kategori politik tersebut. Buktinya, kekuatan politik bisa bersatu,” katanya dengan semangat.
Saya agak tertegun mendengar komentarnya. Saya rasa semakin ia mengkritik Greetz, semakin ia terjebak dalam kategori yang diciptakan Geertz. Bahasanya mengkritik, namun sesungguhnya hanyalah sebuah afirmasi atau pembenaran tentang watak politik kita yang terbelah dalam beberapa kekuatan. Tiba-tiba ia bicara tafsir koalisi.
Apa komentar Saiful? “Saya kira itu cuma permukaan saja. Partai politik kita suka kumpul-kumpul tanpa agenda yang jelas. Mereka suka bikin kerumunan, tanpa tahu hendak di bawa ke mana bangsa ini. Jujur saja, mereka cuma mau dagang sapi saja kok. Saya kira, wacana koalisi itu berawal dari kekhawatiran bahwa mereka akan kalah dalam Pemilu mendatang. Mereka mau menyatukan kekuatan demi menantang SBY dalam pemilihan mendatang,” katanya.
“Tapi Pak Saiful, PKS punya agenda dan warna yang jelas demi meningkatkan kesejahteraan umat,” kata Fahri
“Ah, itu kan cuma menjadi jargon saja di permukaan. Selalu saja ada jarak antara visi ideal dan praksisnya di lapangan. Hari ini menyatakan mendukung wacana ekonomi kerakyatan, tiba-tiba besoknya mendukung kebijakan pemerintah yang menerima kenaikan harga BBM. Itu kan sama saja bohong kepada publik. Trus pernyataan yang mengatakan partai politik duduk bersama, itu makin menunjukkan tidak jelasnya partai. Kalau semua sama, ngapain bikin partai beda. Mendingan dibubarkan saja dan gabung dalam satu bendera. Mestinya visi dipertegas dalam tindakan,” kata Saiful
“Koalisi ini bukan untuk kepentingan pragmatis. Kami mau membangun rencana jangka panjang,” kata Priyo dari Golkar.
“Sebagai rakyat, kita tidak pernah menyaksikan koalisi yang permanen dan bertahan lama. Pemilu lalu, Golkar mendukung Mega sebagai presiden. Tiba-tiba, begitu Mega kalah dan SBY yang menang, Golkar berbalik haluan dan mendukung SBY. Sebagai rakyat, kita terus saja dibohongi partai politik yang sibuk kumpul-kumpul tanpa agenda yang jelas. Saya kira semuanya didorong oleh kepentingan pragmatis dan sesaat untuk Pemilu saja,” kata Saiful.
“Yang paling jelas adalah PDIP. Kami menolak kenaikan BBM dan menolak impor beras,” kata tokoh partai PDIP.
“Saya kira sama saja. Pada zaman Mega jadi presiden, harga BBM juga dinaikkan,”
“Tapi waktu itu kan tidak seberapa,” lanjut tokoh PDIP itu.
“Sama saja kok. Malah, sekarang rakyat dapat kompensasi. Sementara dulu sama sekali tidak ada. Saya kira anda semua cuma bermain pada retorika saja kepada rakyat. Mendingan, koalisi ini buka-bukaan saja. Kalian terus-terang saja apa maunya. Kalau Golkar mau majukan ketuanya sebagai presiden, yah dikomunikasikan saja sama PDIP. Demikian pula PDIP, kalau mau ngincar Pak Kalla jadi wapres, buka-bukaan saja. Nggak usah berlindung di balik retorika kepentingan rakyat. Saya kira itu lebih fair kepada rakyat,” kata Saiful.(*)
Saya menarik kesimpulan itu setelah menyaksikan komentarnya dalam Today’s Dialogue di Metro TV malam ini yang menghadirkan pembicara dari PDI (saya lupa namanya), Fahri Hamzah (PKS), serta Priyo Budi Santoso (Golkar). Sejak awal, saya sudah jenuh dan muak ketika masing-masing pembicara itu membahas rencana koalisi. Semua berapi-api membahas fenomena kedatangan Taufik Kiemas ke hajatan Golkar, kemudian Kiemas ke PKS. Semua pembicara itu sama mengatakan bahwa rencana koalisi itu demi membentuk pemerintahan yang stabil, demi menguatkan agenda kepentingan rakyat.
Yang paling bersemangat adalah Fahri Hamzah dari PKS. “Sudah saatnya kita meninggalkan kategorisasi politik yang sudah usang dari antropolog Clifford Geertz yang melihat abangan santri dan priyayi. Kategori aliran ini kemudian diterjemahkan Herbert Feith menjadi Islam, nasionalis, serta moderat. Kategori ini sudah usang dan memecah-belah kekuatan politik kita. Buktinya, PKS yang berhaluan Islam bisa duduk bersama Golkar serta PDIP yang berhaluan nasionalis. Marilah kita melakukan redefinisi dan membumikan kategori politik tersebut. Buktinya, kekuatan politik bisa bersatu,” katanya dengan semangat.
Saya agak tertegun mendengar komentarnya. Saya rasa semakin ia mengkritik Greetz, semakin ia terjebak dalam kategori yang diciptakan Geertz. Bahasanya mengkritik, namun sesungguhnya hanyalah sebuah afirmasi atau pembenaran tentang watak politik kita yang terbelah dalam beberapa kekuatan. Tiba-tiba ia bicara tafsir koalisi.
Apa komentar Saiful? “Saya kira itu cuma permukaan saja. Partai politik kita suka kumpul-kumpul tanpa agenda yang jelas. Mereka suka bikin kerumunan, tanpa tahu hendak di bawa ke mana bangsa ini. Jujur saja, mereka cuma mau dagang sapi saja kok. Saya kira, wacana koalisi itu berawal dari kekhawatiran bahwa mereka akan kalah dalam Pemilu mendatang. Mereka mau menyatukan kekuatan demi menantang SBY dalam pemilihan mendatang,” katanya.
“Tapi Pak Saiful, PKS punya agenda dan warna yang jelas demi meningkatkan kesejahteraan umat,” kata Fahri
“Ah, itu kan cuma menjadi jargon saja di permukaan. Selalu saja ada jarak antara visi ideal dan praksisnya di lapangan. Hari ini menyatakan mendukung wacana ekonomi kerakyatan, tiba-tiba besoknya mendukung kebijakan pemerintah yang menerima kenaikan harga BBM. Itu kan sama saja bohong kepada publik. Trus pernyataan yang mengatakan partai politik duduk bersama, itu makin menunjukkan tidak jelasnya partai. Kalau semua sama, ngapain bikin partai beda. Mendingan dibubarkan saja dan gabung dalam satu bendera. Mestinya visi dipertegas dalam tindakan,” kata Saiful
“Koalisi ini bukan untuk kepentingan pragmatis. Kami mau membangun rencana jangka panjang,” kata Priyo dari Golkar.
“Sebagai rakyat, kita tidak pernah menyaksikan koalisi yang permanen dan bertahan lama. Pemilu lalu, Golkar mendukung Mega sebagai presiden. Tiba-tiba, begitu Mega kalah dan SBY yang menang, Golkar berbalik haluan dan mendukung SBY. Sebagai rakyat, kita terus saja dibohongi partai politik yang sibuk kumpul-kumpul tanpa agenda yang jelas. Saya kira semuanya didorong oleh kepentingan pragmatis dan sesaat untuk Pemilu saja,” kata Saiful.
“Yang paling jelas adalah PDIP. Kami menolak kenaikan BBM dan menolak impor beras,” kata tokoh partai PDIP.
“Saya kira sama saja. Pada zaman Mega jadi presiden, harga BBM juga dinaikkan,”
“Tapi waktu itu kan tidak seberapa,” lanjut tokoh PDIP itu.
“Sama saja kok. Malah, sekarang rakyat dapat kompensasi. Sementara dulu sama sekali tidak ada. Saya kira anda semua cuma bermain pada retorika saja kepada rakyat. Mendingan, koalisi ini buka-bukaan saja. Kalian terus-terang saja apa maunya. Kalau Golkar mau majukan ketuanya sebagai presiden, yah dikomunikasikan saja sama PDIP. Demikian pula PDIP, kalau mau ngincar Pak Kalla jadi wapres, buka-bukaan saja. Nggak usah berlindung di balik retorika kepentingan rakyat. Saya kira itu lebih fair kepada rakyat,” kata Saiful.(*)
Thursday, August 21, 2008
Kutitip Cinta di Dongkala (Ekspedisi Pasarwajo-Wabula 6)
DONGKALA, sebuah daerah yang terletak di pesisir pantai, yang bisa disaksikan dari seberang lautan Pasarwajo adalah keindahan yang tak terpermanai. Melihat langsung Dongkala menghadirkan sensasi yang berbeda bagiku. Di situ, saya menyaksikan ratusan perahu yang berjajar rapi. Kemudian banyak kapal bertiang dan layar juga menghiasi bibir pantai Dongkala.
Ada banyak bahasa yang digunakan di Dongkala. Mulai dari bahasa Cia-cia, Kondowa, Dongkala, Binongko, hingga Wolio. Antara bahasa Cia-cia, Dongkala, dan Kondowa merupakan rumpun bahasa yang sama, namun berbeda logat atau dialek. Sementara bahasa Binongko dan Wolio sangat berbeda dengan behasa sebelumnya. Warga setempat, rata-rata bisa menggunakan banyak bahasa itu. Ketika temanku Nas menyapa warga dengan bahasa Wolio, maka warga bisa menjawabnya dengan bahasa Wolio yang fasih. Ternyata warga Dongkala punya kecerdasan linguistik yang tinggi.
Perihal banyaknya perhau di pinggir laut ini, saya sempat menyakannya kepada nelayan Dongkala bernama La Uma Dhadi. Ia mengatakan, saat ini sedang musim timur. Biasanya pada musim ini, ombak demikian tinggi sehingga nelayan tak mau mengambil risiko. Kata La Uma, ada saja nelayan lain yang nekat melaut. “Barusan ada nelayan yang datang dari laut dan bawa banyak ikan tuna,” katanya. Harga ikan tuna di situ cukup tinggi. Sebanyak 1 kilogram, bisa dijual sekitar Rp 19.500. Jika nelayan membawa ikan sebanyak 800 kilogram, maka hitung sendiri berapa pemasukan nelayan tersebut.
Temanku Nas tertarik dengan konstruksi kapal yang unik. Bentuk haluannya agak runcing, namun konstruksinya tetap kokoh. Menurut La Uma itu, ada tiga jenis perahu atau kapal yang ada di situ. Pertama perahu berukuran kecil, sejenis kano yang didayung dua orang dan disebut koli-koli. Kedua, perahu berukuran sedang dan biasanya dipakai menangkap ikan dan disebut bodi. Ketiga, adalah perahu yang berukuran besar, sejenis kapal layar bertiang satu dan disebut bangka. Kesemua jenis perahu tersebut dibuat langsung oleh nelayan Dongkala. Mereka tidak punya tradisi membeli kapal dari luar sebab mereka punya teknologi sendiri untuk membuat kapal. Sayangnya, saya tidak sempat menyaksikan langsung proses pembuatan kapal.
Menurut La Uma, pembuatan kapal membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Seorang pembuat kapal harus punya rasa cinta pada laut dan punya visi tentang bagaimana nanti kapal tersebut ketika menghantam ombak. Saya tertarik dengan rasa cinta pada laut. Kata La Uma, cinta pada alut adalah kesadaran mengenali laut dengan segala seluk-beluknya. Dalam bahasa berbeda, saya menterjemahkan itu sebagai cinta yang lahir dari kesadaran bahwa manusia hanya bagian kecil dari semesta.Lautan adalah semesta yang juga harus dikenali dengan baik oleh manusia. Luar biasa, cintalah yang menjadi elemen penting untuk membuat perahu. Cinta menjadi nyawa hubungan manusia dengan alam. Dan perahu yang menjembatani hubungan tersebut, sesuatu yang dibangun dengan cinta.(*)
Ada banyak bahasa yang digunakan di Dongkala. Mulai dari bahasa Cia-cia, Kondowa, Dongkala, Binongko, hingga Wolio. Antara bahasa Cia-cia, Dongkala, dan Kondowa merupakan rumpun bahasa yang sama, namun berbeda logat atau dialek. Sementara bahasa Binongko dan Wolio sangat berbeda dengan behasa sebelumnya. Warga setempat, rata-rata bisa menggunakan banyak bahasa itu. Ketika temanku Nas menyapa warga dengan bahasa Wolio, maka warga bisa menjawabnya dengan bahasa Wolio yang fasih. Ternyata warga Dongkala punya kecerdasan linguistik yang tinggi.
Perihal banyaknya perhau di pinggir laut ini, saya sempat menyakannya kepada nelayan Dongkala bernama La Uma Dhadi. Ia mengatakan, saat ini sedang musim timur. Biasanya pada musim ini, ombak demikian tinggi sehingga nelayan tak mau mengambil risiko. Kata La Uma, ada saja nelayan lain yang nekat melaut. “Barusan ada nelayan yang datang dari laut dan bawa banyak ikan tuna,” katanya. Harga ikan tuna di situ cukup tinggi. Sebanyak 1 kilogram, bisa dijual sekitar Rp 19.500. Jika nelayan membawa ikan sebanyak 800 kilogram, maka hitung sendiri berapa pemasukan nelayan tersebut.
Temanku Nas tertarik dengan konstruksi kapal yang unik. Bentuk haluannya agak runcing, namun konstruksinya tetap kokoh. Menurut La Uma itu, ada tiga jenis perahu atau kapal yang ada di situ. Pertama perahu berukuran kecil, sejenis kano yang didayung dua orang dan disebut koli-koli. Kedua, perahu berukuran sedang dan biasanya dipakai menangkap ikan dan disebut bodi. Ketiga, adalah perahu yang berukuran besar, sejenis kapal layar bertiang satu dan disebut bangka. Kesemua jenis perahu tersebut dibuat langsung oleh nelayan Dongkala. Mereka tidak punya tradisi membeli kapal dari luar sebab mereka punya teknologi sendiri untuk membuat kapal. Sayangnya, saya tidak sempat menyaksikan langsung proses pembuatan kapal.
Menurut La Uma, pembuatan kapal membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Seorang pembuat kapal harus punya rasa cinta pada laut dan punya visi tentang bagaimana nanti kapal tersebut ketika menghantam ombak. Saya tertarik dengan rasa cinta pada laut. Kata La Uma, cinta pada alut adalah kesadaran mengenali laut dengan segala seluk-beluknya. Dalam bahasa berbeda, saya menterjemahkan itu sebagai cinta yang lahir dari kesadaran bahwa manusia hanya bagian kecil dari semesta.Lautan adalah semesta yang juga harus dikenali dengan baik oleh manusia. Luar biasa, cintalah yang menjadi elemen penting untuk membuat perahu. Cinta menjadi nyawa hubungan manusia dengan alam. Dan perahu yang menjembatani hubungan tersebut, sesuatu yang dibangun dengan cinta.(*)
20 AGustus 2008
Bajo Derese: Dilema Suku Laut (Ekspedisi Pasarwajo-Wabula 5)
JIKA ada yang bertanya suku apakah yang sesungguhnya menaklukan laut, maka barangkali Suku Bajo adalah jawabannya. Kiprah dan jejak suku ini dalam menantang laut tak perlu dipertanyakan lagi. Laut adalah semesta yang setiap hari diakrabi dan diarungi hingga batas terjauh. Suku Bajo adalah pengelana laut yang paling memahami asinnya air laut dan menjadikan laut sebagai kanvas yang mengasah kehidupan mereka.
Seseorang yang lahir di suku ini sudah diperkenalkan dengan laut dalam usia yang baru beberapa hari. Sebagaimana seorang pelukis, lautan tidak sekedar wadah untuk mengasah kreasi. Lautan adalah kanvas yang digoreskan dengan kuas kehidupan. Laut adalah nyawa yang memelihara eksistensi orang Bajo sebagai pengelana dan penakluk lautan.
Saat melintas di Desa Holimombo, Kecamatan Wabula, saya melihat hamparan perkampungan Suku Bajo yang elok dipandang mata. Warga Bajo di situ menyebut kampungnya sebagai Bajo Berese, untuk membedakan perkampungan itu dengan suku Bajo lain yang banyak tersebar di Buton. Jika dilihat dari ketinggian, maka perkampungan tersebut sangat indah dan kelihatan bersahaja. Suku Bajo menata kampungnya di atas lautan di mana letak semua rumah-rumah itu berdekatan. Mereka seakan mengelilingi jalanan yang dibuat dengan titian dan menghubungkan banyak rumah. Sebegitu indahnya pemandangan yang saya saksikan, sampai-sampai kamera yang kugunakan untuk memotret seakan tak mampu menggantikan mataku yang menangkap keindahan itu.
Bahasa yang sehari-hari dgunakan di sini adalah bahasa Baong Sama. Namun rata-rata wagra Bajo bisa berbahasa Cia-cia, serta Wanci. Makanya, interaksi warga Bajo Berese dengan warga lainnya bisa berjalan lancar. Ada tiga desa yang berdekatan yaitu Desa Tolando yang berbahasa Cia-cia, Desa Dongkala atau Kondowa yang sebagian berbahasa Wanci. Sementara bahasa Wolio hanya dikuasai oleh para tokoh adat, yang dulunya selalu berhubungan dengan Keraton Buton.
Saya pernah membaca sejumlah literatur tentang suku Bajo. Di antaranya dari antropolog asal UGM, Heddy Shri Ahimsa Putra. Sayangnya, analisisnya terlampau memihak ke Sulsel. Katanya, suku Bajo punya relasi erat dengan Kerajaan Wajo di Sulsel. Bukannya saya skeptis dengan analisis ini, namun analisis itu hanya merangkum tafsir dari orang Sulsel saja –yang sejak dulu hegemonik dan merasa dirinya sebagai mata air kebudayaan di Indonesia timur.
Namun, kalau ditanyakan pada orang Bajo sendiri, maka boleh jadi kita akan menemukan variasi jawaban yang berbeda. Dalam bab 2, buku Wild Profusion: Conservation and Biodiversity in Togean Island, yang ditulis ilmuwan Inggris, Celia Loew, dituliskan syair Bajo yang menyebutkan bahwa “ilmu tertinggi orang Bajo bisa ditemukan di Kaledupa.” Penelitian Celia di perkampungan Bajo yang ada di Pulau Togean, SUlawesi tengah, menemukan variasi yang berbeda dengan analisis Ahimsa di atas. Ternyata, ilmu tertinggi –dan boleh jadi nenek moyang Bajo—terletak di Kaledupa. Dan hingga kini belum banyak yang meneliti di Kaledupa. Tampaknya, Celia tidak paham kalau Kaledupa adalah salah satu pulau yang terletak di Kepulauan Wakatobi. Di pulau itu, terdapat banyak perkampungan suku Bajo
Kembali ke soal Bajo Berese. Saya menyaksikan ada jalan yang dibuat dari beton dan menghubungkan daratan Pasarwajo dengan perkampungan Bajo. Jalanan itu dibuat pemerintah yang juga bisa berfungsi sebagai pelabuhan bagi orang Bajo. Menurut orang Bajo yang saya tanyai, pembangunan jalan itu dulunya mengandung kontroversi. Ada sejumlah kalangan di Bajo yang tidak setuju karena jika ada jalan tembus dari darat, maka boleh jadi orang Bajo akan meninggalkan tradisi rumah panggung yang menancap di laut. Mereka bisa berpaling ke rumah batu, sehingga dikhawatirkan akan merusak khasanah kebersahajaan orang Bajo. Namun, banyak juga generasi yang lebih muda di Bajo yang setuju dengan rencana itu. Mereka bilang, meskipun rumah batu, namun rumah itu tetap berdiri kokoh di tengah lautan. Ciri khas Bajo tetap lestari yaitu sebagai bangsa yang berdiri kokoh di atas lautan.
Perdebatan itu adalah dilema yang menunjukkan posisi orang Bajo yang digempur modernisasi. Ketika melihat suku Bajo Berese, temanku Nas dalam posisi membela kelompok tradisional di Bajo. Sementara saya lain lagi. Menurut saya, kebudayaan Bajo jangan diromantisasi. Mereka harus bersentuhan dengan kemajuan dan perubahan, tanpa harus meninggalkan kebudayaan mereka. Dalam bahasa filosofis, Bajo boleh berubah, namun dia tetaplah Bajo. Saya kira demikian.(*)
Seseorang yang lahir di suku ini sudah diperkenalkan dengan laut dalam usia yang baru beberapa hari. Sebagaimana seorang pelukis, lautan tidak sekedar wadah untuk mengasah kreasi. Lautan adalah kanvas yang digoreskan dengan kuas kehidupan. Laut adalah nyawa yang memelihara eksistensi orang Bajo sebagai pengelana dan penakluk lautan.
Saat melintas di Desa Holimombo, Kecamatan Wabula, saya melihat hamparan perkampungan Suku Bajo yang elok dipandang mata. Warga Bajo di situ menyebut kampungnya sebagai Bajo Berese, untuk membedakan perkampungan itu dengan suku Bajo lain yang banyak tersebar di Buton. Jika dilihat dari ketinggian, maka perkampungan tersebut sangat indah dan kelihatan bersahaja. Suku Bajo menata kampungnya di atas lautan di mana letak semua rumah-rumah itu berdekatan. Mereka seakan mengelilingi jalanan yang dibuat dengan titian dan menghubungkan banyak rumah. Sebegitu indahnya pemandangan yang saya saksikan, sampai-sampai kamera yang kugunakan untuk memotret seakan tak mampu menggantikan mataku yang menangkap keindahan itu.
Bahasa yang sehari-hari dgunakan di sini adalah bahasa Baong Sama. Namun rata-rata wagra Bajo bisa berbahasa Cia-cia, serta Wanci. Makanya, interaksi warga Bajo Berese dengan warga lainnya bisa berjalan lancar. Ada tiga desa yang berdekatan yaitu Desa Tolando yang berbahasa Cia-cia, Desa Dongkala atau Kondowa yang sebagian berbahasa Wanci. Sementara bahasa Wolio hanya dikuasai oleh para tokoh adat, yang dulunya selalu berhubungan dengan Keraton Buton.
Saya pernah membaca sejumlah literatur tentang suku Bajo. Di antaranya dari antropolog asal UGM, Heddy Shri Ahimsa Putra. Sayangnya, analisisnya terlampau memihak ke Sulsel. Katanya, suku Bajo punya relasi erat dengan Kerajaan Wajo di Sulsel. Bukannya saya skeptis dengan analisis ini, namun analisis itu hanya merangkum tafsir dari orang Sulsel saja –yang sejak dulu hegemonik dan merasa dirinya sebagai mata air kebudayaan di Indonesia timur.
Namun, kalau ditanyakan pada orang Bajo sendiri, maka boleh jadi kita akan menemukan variasi jawaban yang berbeda. Dalam bab 2, buku Wild Profusion: Conservation and Biodiversity in Togean Island, yang ditulis ilmuwan Inggris, Celia Loew, dituliskan syair Bajo yang menyebutkan bahwa “ilmu tertinggi orang Bajo bisa ditemukan di Kaledupa.” Penelitian Celia di perkampungan Bajo yang ada di Pulau Togean, SUlawesi tengah, menemukan variasi yang berbeda dengan analisis Ahimsa di atas. Ternyata, ilmu tertinggi –dan boleh jadi nenek moyang Bajo—terletak di Kaledupa. Dan hingga kini belum banyak yang meneliti di Kaledupa. Tampaknya, Celia tidak paham kalau Kaledupa adalah salah satu pulau yang terletak di Kepulauan Wakatobi. Di pulau itu, terdapat banyak perkampungan suku Bajo
Kembali ke soal Bajo Berese. Saya menyaksikan ada jalan yang dibuat dari beton dan menghubungkan daratan Pasarwajo dengan perkampungan Bajo. Jalanan itu dibuat pemerintah yang juga bisa berfungsi sebagai pelabuhan bagi orang Bajo. Menurut orang Bajo yang saya tanyai, pembangunan jalan itu dulunya mengandung kontroversi. Ada sejumlah kalangan di Bajo yang tidak setuju karena jika ada jalan tembus dari darat, maka boleh jadi orang Bajo akan meninggalkan tradisi rumah panggung yang menancap di laut. Mereka bisa berpaling ke rumah batu, sehingga dikhawatirkan akan merusak khasanah kebersahajaan orang Bajo. Namun, banyak juga generasi yang lebih muda di Bajo yang setuju dengan rencana itu. Mereka bilang, meskipun rumah batu, namun rumah itu tetap berdiri kokoh di tengah lautan. Ciri khas Bajo tetap lestari yaitu sebagai bangsa yang berdiri kokoh di atas lautan.
Perdebatan itu adalah dilema yang menunjukkan posisi orang Bajo yang digempur modernisasi. Ketika melihat suku Bajo Berese, temanku Nas dalam posisi membela kelompok tradisional di Bajo. Sementara saya lain lagi. Menurut saya, kebudayaan Bajo jangan diromantisasi. Mereka harus bersentuhan dengan kemajuan dan perubahan, tanpa harus meninggalkan kebudayaan mereka. Dalam bahasa filosofis, Bajo boleh berubah, namun dia tetaplah Bajo. Saya kira demikian.(*)
20 AGustus 2008
Melihat Kapal Dungku Changia (Ekspedisi Pasarwajo-Wabula 4)
DUNGKU Changia adalah laksamana Mongol yang hendak menaklukan Raja Kertanegara di Singasari. Bersama dua laksaman lainnya, pria yang bernama asli Kau Ching ini datang ke Nusantara mengemban tugas dari Kaisar Kubilai Khan, sang Kaisar Langit untuk menghukum keangkuhan Raja Kertanegara yang sempat melukai utusan Mongol beberapa tahun sebelumnya.
Dengan bala tentara ribuan orang, Kau Ching siap menghunus pedang demi menunjukkan pada Singasari bahwa Mongol adalah kekaisaran yang sungguh perkasa dan sudah digariskan dari Thian yang agung. Sayangnya, saat tiba di perairan Nusantara, ternyata Kertanegara sudah tewas. Singasari tinggal puing setelah dikudeta Raja Jayakatwang dari Kediri. Kemudian pasukan Mongol itu diperdaya Raden Wijaya untuk menghancurkan pasukan Jayakatwang, setelah itu pasukan Mongol itu diumpas secara licik oleh Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Majapahit. Pasukan Mongol kocar-kacir menyelamatkan diri.
Itu adalah versi sejarah resmi nasional kita. Namun adakah kelanjutan kisah tersebut? Sejarah kita tak punya catatan. Namun orang Buton punya cerita bagaimana kelanjutannya. Laksamana Kau Ching itu melarikan diri dan perahunya terdampar di sebelah selatan Pulau Buton. Kisah terdamparnya perahu tersebut, menjadi cerita yang tersebar di seantero kampung. Kau Ching lalu diangkat sebagai raja dan mengganti namanya menjadi Dungku Changia. Ia menikah dengan warga setempat. Makanya, banyak warga setempat yang berkulit putih sehingga kampung itu disebut Wabula atau putih. Ketika mendengar seorang putri Cina bernama Wa Kha Kha menjadi Raja Buton, Dungku Changia lalu ke Keraton Wolio dan menjadikan dirinya sebagai abdi setia.
Perahu yang pernah digunakannya tersebut, hingga kini masih disimpan oleh warga. Perahu yang dinamakan La Kambai Bunga dipajang di Desa Wasuemba, yang berdampingan dengan Wabula. Menurut cerita warga setempat, saat ditemukan, perahu itu tinggal kerangka. Baru-baru ini, beberapa warga berinisiatif untuk memugar perahu itu, kemudian dicat sehingga nampak baru. Kini, perahu itu terlihat cantik seperti perahu baru.
Menyaksikan perahu itu, batin saya sempat memprotes. Mestinya, kerangka yang berusia
ratusan tahun itu dibiarkan tetap utuh agar menjadi saksi perjalanan perahu membelah lautan demi mengantarkan Dungku Changia. Menyaksikan kerangka perahu yang nyaris hancur itu, tentunya mendatangkan getar tersendiri sebab kita menyadari di balik kayu yang keropos itu, sesungguhnya ada cerita besar pergulatan melawan nasib. Kita bisa memahami keteguhan Kau Ching yang diombang-ambingkan gelombang demi menemukan negeri yang bisa menerimanya kelak. Kayu yang keropos dan lapuk adalah simbol perjuangan melawan ketuaan yang hendak menelan bulat-bulat.
Tindakan warga yang membangun ulang dan mencat sepeti perahu baru adalah tindakan yang keliru. Justru ketika perahu itu tampak baru, maka dia akan kehilangan getar itu. Saya hanya bisa menyaksikan saja. Meski nampak baru, warga tetap memperlakukan perahu itu sebagai perahu keramat. Banyak mitos yang diceritakan tentang perahu. Misalnya, meski bocor namun saat berada di atas air, maka akan mengapung. Banyaknya mitos itu, membuat warga selalu menggelar ritual setiap tahunnya. Mereka menyembelih kambing, sambil menggelar ritual adat yang dipimpin oleh seorang Parabela. Dalam kebudayaan Buton, parabela adalah jabatan yang dberikan Kesultanan Buton kepada pemimpin kampung yang juga menjadi pemimpin dalam semua upacara adat. Hingga kini, masih ada parabela di Wabula. Sayangnya, saya tak punya banyak waktu untuk ketemu Parabela itu. Saya harus segera pulang. Dan setelah memotret beberapa sisi perahu, saya langsung tancap gas pulang ke Bau-Bau.(*)
Dengan bala tentara ribuan orang, Kau Ching siap menghunus pedang demi menunjukkan pada Singasari bahwa Mongol adalah kekaisaran yang sungguh perkasa dan sudah digariskan dari Thian yang agung. Sayangnya, saat tiba di perairan Nusantara, ternyata Kertanegara sudah tewas. Singasari tinggal puing setelah dikudeta Raja Jayakatwang dari Kediri. Kemudian pasukan Mongol itu diperdaya Raden Wijaya untuk menghancurkan pasukan Jayakatwang, setelah itu pasukan Mongol itu diumpas secara licik oleh Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Majapahit. Pasukan Mongol kocar-kacir menyelamatkan diri.
Itu adalah versi sejarah resmi nasional kita. Namun adakah kelanjutan kisah tersebut? Sejarah kita tak punya catatan. Namun orang Buton punya cerita bagaimana kelanjutannya. Laksamana Kau Ching itu melarikan diri dan perahunya terdampar di sebelah selatan Pulau Buton. Kisah terdamparnya perahu tersebut, menjadi cerita yang tersebar di seantero kampung. Kau Ching lalu diangkat sebagai raja dan mengganti namanya menjadi Dungku Changia. Ia menikah dengan warga setempat. Makanya, banyak warga setempat yang berkulit putih sehingga kampung itu disebut Wabula atau putih. Ketika mendengar seorang putri Cina bernama Wa Kha Kha menjadi Raja Buton, Dungku Changia lalu ke Keraton Wolio dan menjadikan dirinya sebagai abdi setia.
Perahu yang pernah digunakannya tersebut, hingga kini masih disimpan oleh warga. Perahu yang dinamakan La Kambai Bunga dipajang di Desa Wasuemba, yang berdampingan dengan Wabula. Menurut cerita warga setempat, saat ditemukan, perahu itu tinggal kerangka. Baru-baru ini, beberapa warga berinisiatif untuk memugar perahu itu, kemudian dicat sehingga nampak baru. Kini, perahu itu terlihat cantik seperti perahu baru.
Menyaksikan perahu itu, batin saya sempat memprotes. Mestinya, kerangka yang berusia
Tindakan warga yang membangun ulang dan mencat sepeti perahu baru adalah tindakan yang keliru. Justru ketika perahu itu tampak baru, maka dia akan kehilangan getar itu. Saya hanya bisa menyaksikan saja. Meski nampak baru, warga tetap memperlakukan perahu itu sebagai perahu keramat. Banyak mitos yang diceritakan tentang perahu. Misalnya, meski bocor namun saat berada di atas air, maka akan mengapung. Banyaknya mitos itu, membuat warga selalu menggelar ritual setiap tahunnya. Mereka menyembelih kambing, sambil menggelar ritual adat yang dipimpin oleh seorang Parabela. Dalam kebudayaan Buton, parabela adalah jabatan yang dberikan Kesultanan Buton kepada pemimpin kampung yang juga menjadi pemimpin dalam semua upacara adat. Hingga kini, masih ada parabela di Wabula. Sayangnya, saya tak punya banyak waktu untuk ketemu Parabela itu. Saya harus segera pulang. Dan setelah memotret beberapa sisi perahu, saya langsung tancap gas pulang ke Bau-Bau.(*)
20 AGustus 2008
Tambang Aspal yang Memfosil (Ekspedisi Pasarwajo-Wabula 3)
DI Indonesia, Buton terkenal sebagai pulau penghasil aspal. Di tanah ini, aspal tak perlu ditambang sebab muncul begitu saja dari dalam bumi untuk digunakan bagi warga demi kesejahteraan. Aspal adalah simbol kejayaan pulau ini sejak masa Belanda hingga Indonesia merdeka. Begitu banyak orang Buton yang menikmati kejayaan tambang aspal itu.
Namun itu dulu. Kini, cerita kejayaan tambang aspal itu menjadi nyanyi sunyi yang didongengkan pada anak kecil. Kini, tambang aspal itu menjadi fosil dan hanya meninggalkan jejak-jejak yang membisu. Hanya meninggalkan cerita dan tempat-tempat yang menjadi saksi kejayaan tambang itu. Hari ini, saya melihat mesin-mesin pengangkut aspal yang sudah berkarat karena tak pernah lagi digunakan. Pelabuhan yang tak terurus serta timbunan aspal yang tak tahu hendak dibawa ke mana.
“Dulunya, pelabuhan ini penuh dengan kapal tongkang dari berbagai negara. Kami capek setiap saat menerima order memasukkan aspal ke kapal tersebut, “kata seorang buruh PT Sarana Karya, perusahaan yang mengelola tambang tersebut. Buruh tersebut hanya punya lapis-lapis kenangan yang dikisahkan kepada mereka yang singgah. Ia juga bercerita kalau setiap tahun baru, maka perusahaan akan mengundang artis ibukota untuk tampil menghibur warga Pasarwajo. Suasananya demikian meriah sebab tambang juga banyak mengucurkan dana bagi warga sekitar sebagai bentuk kepedulian pada warga.
Apakah semuanya masih punya jejak? Buruh yang menemaniku lalu menunjukkan fasilitas perusahaan tambang tersebut ketika masih berjaya. Mulai dari lapangan tenis yang mewah untuk ukuran tahun 1970-an, gedung aula yang megah, serta bangunan perumahan karyawan yang banyak dan berjajar rapi. Kini, semua bangunan itu masih berdiri tegak, meskipun dengan cat yang terkelupas di sana-sini, dengan kondisi yang sungguh memprihatinkan, seperti melihat raut wajah seorang tua yang sedang menunggu ajal. Beberapa bangunan yang ada di situ, perlahan ditempati pihak Pemda Buton yang baru beberapa tahun dimekarkan, mulai dari rumah sakit hingga perumahan warga. Bahkan bangunan induk PT Sarana Karya juga ditempati aparat pemda untuk berkantor. Situasi tambang itu sungguh memprihatinkan dan seakan tak bisa berbuat apa-apa.
Jika tambang timah di Bangka bangkrut karena kandungan timahnya habis, tidak demikian dengan tambang aspal yang ada di Pasarwajo. Aspal di situ tetap melimpah, namun kalah bersaing dengan penjualan aspal minyak yang kemudian merajai pasar aspal. Di saat pemerintah tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan tambang, maka nasib ribuan karyawan di situ menjadi pertaruhan. Mereka akhirnya harus rela mengurut dada karena situasi zaman yang berubah drastis. Apa boleh buat. Mereka hanya bisa pasrah dan hanya menyisakan cerita lirih tentang masa lalu yang jaya.(*)
Pulau Buton, 20 Agustus 2008
Kemiskinan yang Terwariskan (Ekspedisi Pasarwajo-Wabula 2)
HAL miris yang kusaksikan sepanjang perjalanan ke Pasarwajo adalah menyaksikan kemiskinan masyarakat. Saya tidak sedang berbicara tentang kemiskinan versi Bank Dunia yang parameternya banyak didebat di mana-mana. Namun, saya sedang berbicara tentang kemiskinan warga yang terlihat dari bangunan rumah yang reot, kumuh, serta tingkat pendidikan yang tidak memadai.
Betapa kasihannya rakyat kebanyakan sebab hidup dalam kondisi yang serba sulit. Mengamati banyak kampung yang saya lewati, saya menarik kesimpulan bahwa kemiskinan lebih sering ditemukan pada kampung yang tertak di tengah hutan (kita sebut saja kampung hutan), di mana warganya menggantungkan hidup sebagai peladang. Sementara kampung yang ada di pinggir laut (kita sebut saja kampung laut), justru lebih sejahtera. Indikatornya jelas, dengan mengamati bagaimana bentuk rumah, serta suasana kampung di hutan dan kampung nelayan. Perbedaannya sangat jelas bagiku.
Saya sempat singgah dan ngobrol dengan warga di dua kampung tersebut. Warga di kampung hutan mengaku pendapatan sebagai peladang tidak menentu. Kondisi tanah yang tandus, kemudian kurangnya curah hujan, menjadi faktor yang menyebabkan kondisi ladang. Apalagi, tanaman mereka bukanlah tanaman yang menghasilkan laba besar. Mereka hanya menanam jambu mente, jagung, ubi kayu, serta ketela. Pola perladangan mereka hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, seperti jagung dan ibu kayu. Tanaman itu kalau dijual harganya murah. Jika tidak laku, warga menyimpannya di lumbung yang diletakkan di langit-langit rumah. Di sisi lain, pemerintah tidak memperkenalkan mereka dengan tanaman dengan orientasi ekspor seperti coklat atau cengkeh. Atau tanaman seperti jati dan kayu hitam. Padahal, tanah di Buton sangat cocok untuki tanaman tersebut.
Namun, ada yang unik dengan kampung-kampung miskin itu. Saat singgah di satu kampung, saya sempat bertanya pada warga apakah dia mengalami krisis pangan. Warga yang termasuk golongan miskin itu mengaku tidak pernah krisis pangan. Menurutnya, warga miskin di situ tidak banyak tergantung pada beras. “Kami di sini, punya banyak makanan pengganti seperti kasoami, ubi kayu, ubi jalar, kambose, kapusu, serta makanan lainnya.” Kasoami adalah makanan yang sangat populer dan diolah dari hasil kukusan perasan ubi kayu. Makanan ini adalah ciri khas dari orang-orang Buton. Sedang kambose dan kapusu adalah makanan yang diolah dari jagung. Masyarakat setempat telah lama menemukan teknologi atau cara untuk menyimpan jagung hingga bertahan selama puluhan tahun, yaitu disimpan di langit-langit rumah dan setiap saat terkena asap dari dapur.
Beragam makanan pengganti ini adalah khasanah lokal yang membuat warga miskin di Buton memiliki daya tahan hebat ketika digempur krisis pangan dunia. Barangkali wacana kurang pangan sehingga warga kelaparan, makan nasi aking, atau terkena busung lapar, adalah wacana yang hanya dimungkinkan pada satu tempat yang punya ketergantungan pada beras atau nasi. Kemampuan untuk melakukan diferensiasi pangan inilah yang menjelaskan mengapa jarang sekali terdengar kasus gizi buruk di Buton. Masyarakat punya daya tahan dalam beradaptasi dengan situasi ketika beras tidak ada. Itulah kearifan lokal.
Dalam hal pangan, saya rasa tidak masalah. Bagaimana dengan kesejahteraan? Saya kira masyarakat di situ hanya bisa pasrah. Saya teringat Clifford Geertz. Dia pernah melakukan riset di satu desa pertanian di Jawa dan melihat gejala kemiskinan yang diwariskan secara turun-temurun. Akibatnya, muncul pola yang selalu melingkar dan mengalami pengulangan secara terus-menerus. Dalam konteks berbeda, kemiskinan di kampung-kampung itu juga mengalami involusi atau gerak melingkar tersebut. Kasihan mereka!!!(*)
Betapa kasihannya rakyat kebanyakan sebab hidup dalam kondisi yang serba sulit. Mengamati banyak kampung yang saya lewati, saya menarik kesimpulan bahwa kemiskinan lebih sering ditemukan pada kampung yang tertak di tengah hutan (kita sebut saja kampung hutan), di mana warganya menggantungkan hidup sebagai peladang. Sementara kampung yang ada di pinggir laut (kita sebut saja kampung laut), justru lebih sejahtera. Indikatornya jelas, dengan mengamati bagaimana bentuk rumah, serta suasana kampung di hutan dan kampung nelayan. Perbedaannya sangat jelas bagiku.
Saya sempat singgah dan ngobrol dengan warga di dua kampung tersebut. Warga di kampung hutan mengaku pendapatan sebagai peladang tidak menentu. Kondisi tanah yang tandus, kemudian kurangnya curah hujan, menjadi faktor yang menyebabkan kondisi ladang. Apalagi, tanaman mereka bukanlah tanaman yang menghasilkan laba besar. Mereka hanya menanam jambu mente, jagung, ubi kayu, serta ketela. Pola perladangan mereka hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, seperti jagung dan ibu kayu. Tanaman itu kalau dijual harganya murah. Jika tidak laku, warga menyimpannya di lumbung yang diletakkan di langit-langit rumah. Di sisi lain, pemerintah tidak memperkenalkan mereka dengan tanaman dengan orientasi ekspor seperti coklat atau cengkeh. Atau tanaman seperti jati dan kayu hitam. Padahal, tanah di Buton sangat cocok untuki tanaman tersebut.
Namun, ada yang unik dengan kampung-kampung miskin itu. Saat singgah di satu kampung, saya sempat bertanya pada warga apakah dia mengalami krisis pangan. Warga yang termasuk golongan miskin itu mengaku tidak pernah krisis pangan. Menurutnya, warga miskin di situ tidak banyak tergantung pada beras. “Kami di sini, punya banyak makanan pengganti seperti kasoami, ubi kayu, ubi jalar, kambose, kapusu, serta makanan lainnya.” Kasoami adalah makanan yang sangat populer dan diolah dari hasil kukusan perasan ubi kayu. Makanan ini adalah ciri khas dari orang-orang Buton. Sedang kambose dan kapusu adalah makanan yang diolah dari jagung. Masyarakat setempat telah lama menemukan teknologi atau cara untuk menyimpan jagung hingga bertahan selama puluhan tahun, yaitu disimpan di langit-langit rumah dan setiap saat terkena asap dari dapur.
Beragam makanan pengganti ini adalah khasanah lokal yang membuat warga miskin di Buton memiliki daya tahan hebat ketika digempur krisis pangan dunia. Barangkali wacana kurang pangan sehingga warga kelaparan, makan nasi aking, atau terkena busung lapar, adalah wacana yang hanya dimungkinkan pada satu tempat yang punya ketergantungan pada beras atau nasi. Kemampuan untuk melakukan diferensiasi pangan inilah yang menjelaskan mengapa jarang sekali terdengar kasus gizi buruk di Buton. Masyarakat punya daya tahan dalam beradaptasi dengan situasi ketika beras tidak ada. Itulah kearifan lokal.
Dalam hal pangan, saya rasa tidak masalah. Bagaimana dengan kesejahteraan? Saya kira masyarakat di situ hanya bisa pasrah. Saya teringat Clifford Geertz. Dia pernah melakukan riset di satu desa pertanian di Jawa dan melihat gejala kemiskinan yang diwariskan secara turun-temurun. Akibatnya, muncul pola yang selalu melingkar dan mengalami pengulangan secara terus-menerus. Dalam konteks berbeda, kemiskinan di kampung-kampung itu juga mengalami involusi atau gerak melingkar tersebut. Kasihan mereka!!!(*)
Ekspedisi Pasarwajo-Wabula (1)
HARI ini saya lelah secara fisik dan emosional setelah menjalani ekspedisi melintasi Pasarwajo dan Wabula. Dua daerah ini adalah kecamatan yang terletak di ujung selatan Pulau Buton. Pasarwajo dikenal sebagai daerah penghasil aspal, yang di tahun 1970-an sempat menikmati masa jaya. Akibat kurang promosi dan persaingan yang tinggi dengan jenis aspal minyak, kini tambang aspal alam itu ibarat kereta tua yang kepayahan bergerak melintasi rel yang terus mendaki. Malah, kereta itu mulai tertahan dan perlahan berjalan mundur. Sungguh ironis.
Jalan yang hendak saya lalui ini adalah jalan yang dibangun oleh pemerintah Belanda demi melancarkan pasokan aspal dari Pasarwajo ke Bau-Bau. Belanda bersusah payah membelah bukit, kemudian menyisipkan celah di antara bebatuan cadas demi sebuah jalan yang menghubungkan dua wilayah ini. Berdasarkan data yang sempat kucatat, produksi aspal Buton yang diperluas secara resmi dimulai pada tanggal 21 Oktober 1924. Perusahaan pertambangan asing yang pertama mengelolanya adalah NV Mijnbouw en Cultuur Maschappij Buton. Perusahaan inilah yang kemudian mengajukan proposal ke Pemerintah Hindia Belanda untuk membangun jalan ke Pasarwajo.
Hari ini saya menyiapkan fisik untuk melalui jalan itu. Dengan mengendarai sepeda motor jenis Suzuki Smash, saya melintasi jalanan Bau-Bau ke Pasarwajo yang rusak parah sejauh 48 kilometer, kemudian disambung ke Wabula sejauh 30 km dan selanjutnya pulang kembali ke Bau-Bau. Waktu sehari saya gunakan untuk melintasi wilayah yang medannya sungguh sulit dan berbukit-bukit. Dikarenakan ekspedisi ini cuma sehari, mohon dimengerti kalau tulisanku kurang bisa menangkap detail-detail yang unik dan penting sebagaimana lazimnya tulisan etnografi.
Meninggalkan Kota Bau-Bau, jalanan masih sangat mulus, namun setelah melewati Gonda Baru, yang merupakan perbatasan dengan Kabupaten Buton, jalanan mulai rusak parah. Kerikil serta batu cadas harus dilewati sehingga waktu tempuh menjadi berkurang secara drastis. Selama melintasi jalan tersebut, saya selalu khawatir kalau-kalau ban motorku akan pecah sebab disekelilingku adalah hutan belantara dan tidak terlihat pemukiman penduduk. Jika ban motor itu pecah, maka saya akan kepayahan harus mendorong motor di tengah hutan belukar dan jalanan yang rusak parah.
Daratan Pulau Buton ini yang saya lewati ini, hanya sebagian kecil yang subur dan ditumbuhi hutan lebat. Sebagian besar topografi wilayah yang saya saksikan adalah bebatuan karang yang tandus sehingga rasanya mustahil jika dijadikan areal persawahan. Yang mencengangkan saya, penduduk bisa menyiasati lahan tandus itu dengan menanam ubi kayu. Setahu saya, ada beberapa jenis ubi kayu yang bersifat endemik di Buton yaitu wikau maombo dan ubi kayu La Baali (mohon maaf karena saya tak tahu nama latinnya).
Selain pemandangan berupa batu karang yang cadas serta ubi kayu yang tumbuh di sela karang, pemandangan lain yang saya saksikan adalah sejumlah bukit sabana yang ditumbuhi alang-alang. Alang-alang itu tidak seberapa tinggi, namun rata dan memenuhi bukit, sehingga pemandangannya cukup indah. Jika diperhatikan secara sepintas, persis bukit dalam serial anak Teletubbies. Pantas saja jika warga Buton menyebut bukit-bukit itu sebagai Bukit Teletubbies, bukit yang enak dipandang mata, namun sesungguhnya tandus dan tak ada sumber air.
Sepanjang perjalanan, saya mengeluh melihat jalanan yang rusak parah. Saya tak habis pikir, kenapa pemerintah Kabupaten Buton tidak mendesakkan hal ini dengan gigih. Mereka hanya sibuk berdalih bahwa anggarannya adalah anggaran provinsi. Mereka tak mau mencari sumber-sumber dana yang kreatif demi mengatasi masalah jalan raya ini. Padahal, jalan ini adalah jalan yang sangat vital dan pertamakali dibangun Belanda demi melancarkan proses distribusi aspal dari Pasarwajo ke Bau-Bau.
Saya melalui beberapa desa seperti Kaongke-Ongkea hingga Wakokili. Kemudian masuk wilayah Lapodi, Wasaga, hingga Wakoko. Saya mencatat banyak nama-nama desa yang unik, yang nantinya akan saya kisahkan pada tulisan lain. Desa Wakoko merupakan jantung wilayah Kabupaten Buton sebab di desa inilah dibangun jalan besar yang kemudian terhubung menuju kantor Bupati Buton. Sayangnya, jalan menuju kantor bupati belum semua diaspal. Jalanannya masih gripis, penuh batu kerikil. Setelah singgah sesaat di Wakoko, selanjutnya saya mulai meneruskan perjalanan dan memulai petualangan baru.(*)
Pulau Buton, 20 Agustus 2008
Friday, August 15, 2008
Ingin Nonton Serial Cheng Ho
SAYA ingin sekali nonton serial Laksamana Cheng Ho yang akan ditayangkan di Metro TV besok. Barusan, saya menyaksikan tayangan KickAndy yang menghadirkan pemeran Cheng Ho yaitu Prof Yusril Ihza Mahendra. Saya terpikat dengan penjelasan Yusril tentang kiprah tokoh Muslim yang berlayar dari daratan Cina dan menggoreskan sejarah di Asia. Saya juga terpikat tertarik dengan detail dan riset sejarah yang cukup kuat untuk menampilkan adegan serial ini sesuai dengan sejarah.
Riset dan detail sejarah yang kaya adalah pesona yang memikat dari kisah kolosal. Setidaknya, dengan riset itu, kita tidak sedang menyaksikan cerita yang mengawang-ngawang, namun sedang mendapati sebuah cerita yang benar terjadi dan menyejarah di bagian lain bumi ini. Kita sedang menyaksikan sebuah cerita yang memiliki “daging dan darah” yaitu akurasi, ketepatan, serta detail peristiwa dan tempat yang nantinya akan menarik untuk disaksikan. Kita sedang menyaksikan pergulatan manusia dalam menghadapi stuasi zaman yang sedang berubah.
Bagiku, perjalanan muhibah pria --yang juga kerap disapa Zheng He-- ini ke banyak tempat di Asia adalah kisah yang wajib untuk dipahami oleh semua orang. Terlampau banyak jejak yang ditorehkan Cheng Ho di negeri ini, termasuk lahirnya kota-kota pesisir pantai, penyebaran agama Islam, iklim multikulturalisme yang tumbuh subur, serta dialektika kebudayaan dan perdamaian di kalangan bangsa-bangsa yang bersentuhan dan disinggahi kapal besarnya.
Namun, bukan hanya itu yang membuatku ingin menyaksikan serial ini. Saya tercengang dengan fakta bahwa di masa silam antara Tiongkok dengan negeri lain selalu menjalin kontak dan komunikasi yang sangat erat. Ketika Majapahit mengalami kisruh atau jelang keruntuhyan, Kaisar Ming –yang merupakan salah satu kaisar termasyhur dalam sejarah Cina--ikut masygul atas situasi itu dan memerintahkan Cheng Ho untuk berlayar menjangkau Majapahit. Dalam pelayaran itu, pria Muslim ini kemudian menumpas banyak bajak laut, melakukan transfer teknologi pada kota-kota yang disinggahinya, hingga memberikan sapuan warna peradaban di semua kota pantai yang dilewatinya.
Membaca Cheng Ho adalah membaca kisah kepahlawanan yang tidak ditegakkan dengan darah dan dentum peperangan. Membaca Cheng Ho adalah membaca kisah sejarah Asia Tenggara yang pertama mekar oleh globalisasi dan peresentuhan kebudayaan. Pria yang lahir di Kunyang, terletak di Provinsi Yunan, Cina Selatan, adalah penjelajah dan diplomat paling ulung yang pertama mengunjungi sekitar 35 negara dan mengibarkan panji perdamaian.
Tokoh ini bukan cuma milik Cina, namun juga milik bangsa-bangsa lain di negeri yang dikitari angin utara. Membaca Cheng Ho adalah membaca kisah perdamaian dan diplomasi dari seorang kasim Kekaisaran Cina yang kemudian menjelma menjadi panglima laut yang menguasai sebanyak 300 armada kapal dan menyusuri jazirah Asia. Bagi mereka yang pernah membaca buku Gavin Menzies berjudul 1421, When China Discoveries the World, pasti akan paham betapa dahsyatnya pengalaman bangsa Cina di lautan. Bahkan, di saat Columbus mengklaim telah menemukan benua Amerika di tahun 1492, ternyata bangsa Cina telah lebih dulu singgah di tahun 1421.
Saya ingin nonton Cheng Ho. Bukan karena Yusril, bukan karena syutingnya di banyak negara, namun saya ingin mengetahui kisah keseharian (everyday life) dari tokoh yang mengubah sejarah. Sayangnya, serial ini hanya tayang sekali dalam seminggu. Pasti akan melalahkan dan memicu rasa bosan menanti tayangannya di setiap minggu. Andaikan ada DVD bajakannya pasti akan jauh lebih asyik menyaksikannya. Wah, ini bukan pelanggaran khan?
Riset dan detail sejarah yang kaya adalah pesona yang memikat dari kisah kolosal. Setidaknya, dengan riset itu, kita tidak sedang menyaksikan cerita yang mengawang-ngawang, namun sedang mendapati sebuah cerita yang benar terjadi dan menyejarah di bagian lain bumi ini. Kita sedang menyaksikan sebuah cerita yang memiliki “daging dan darah” yaitu akurasi, ketepatan, serta detail peristiwa dan tempat yang nantinya akan menarik untuk disaksikan. Kita sedang menyaksikan pergulatan manusia dalam menghadapi stuasi zaman yang sedang berubah.
Bagiku, perjalanan muhibah pria --yang juga kerap disapa Zheng He-- ini ke banyak tempat di Asia adalah kisah yang wajib untuk dipahami oleh semua orang. Terlampau banyak jejak yang ditorehkan Cheng Ho di negeri ini, termasuk lahirnya kota-kota pesisir pantai, penyebaran agama Islam, iklim multikulturalisme yang tumbuh subur, serta dialektika kebudayaan dan perdamaian di kalangan bangsa-bangsa yang bersentuhan dan disinggahi kapal besarnya.
Namun, bukan hanya itu yang membuatku ingin menyaksikan serial ini. Saya tercengang dengan fakta bahwa di masa silam antara Tiongkok dengan negeri lain selalu menjalin kontak dan komunikasi yang sangat erat. Ketika Majapahit mengalami kisruh atau jelang keruntuhyan, Kaisar Ming –yang merupakan salah satu kaisar termasyhur dalam sejarah Cina--ikut masygul atas situasi itu dan memerintahkan Cheng Ho untuk berlayar menjangkau Majapahit. Dalam pelayaran itu, pria Muslim ini kemudian menumpas banyak bajak laut, melakukan transfer teknologi pada kota-kota yang disinggahinya, hingga memberikan sapuan warna peradaban di semua kota pantai yang dilewatinya.
Membaca Cheng Ho adalah membaca kisah kepahlawanan yang tidak ditegakkan dengan darah dan dentum peperangan. Membaca Cheng Ho adalah membaca kisah sejarah Asia Tenggara yang pertama mekar oleh globalisasi dan peresentuhan kebudayaan. Pria yang lahir di Kunyang, terletak di Provinsi Yunan, Cina Selatan, adalah penjelajah dan diplomat paling ulung yang pertama mengunjungi sekitar 35 negara dan mengibarkan panji perdamaian.
Tokoh ini bukan cuma milik Cina, namun juga milik bangsa-bangsa lain di negeri yang dikitari angin utara. Membaca Cheng Ho adalah membaca kisah perdamaian dan diplomasi dari seorang kasim Kekaisaran Cina yang kemudian menjelma menjadi panglima laut yang menguasai sebanyak 300 armada kapal dan menyusuri jazirah Asia. Bagi mereka yang pernah membaca buku Gavin Menzies berjudul 1421, When China Discoveries the World, pasti akan paham betapa dahsyatnya pengalaman bangsa Cina di lautan. Bahkan, di saat Columbus mengklaim telah menemukan benua Amerika di tahun 1492, ternyata bangsa Cina telah lebih dulu singgah di tahun 1421.
Saya ingin nonton Cheng Ho. Bukan karena Yusril, bukan karena syutingnya di banyak negara, namun saya ingin mengetahui kisah keseharian (everyday life) dari tokoh yang mengubah sejarah. Sayangnya, serial ini hanya tayang sekali dalam seminggu. Pasti akan melalahkan dan memicu rasa bosan menanti tayangannya di setiap minggu. Andaikan ada DVD bajakannya pasti akan jauh lebih asyik menyaksikannya. Wah, ini bukan pelanggaran khan?
Thursday, August 14, 2008
Baris-Berbaris, Resistensi, dan Wacana Tanding
MATA Tika (8) berkaca-kaca. Gadis kecil yang duduk di kelas 4 SD 2 Ngangana Umala di Kota Bau-Bau, sedari pagi sudah sembab. Tepat ketika matahari berada di ubun-ubun, ia hanya duduk saja di depan rumahnya berdinding bambu sambil menunduk. Ada apakah gerangan? Ternyata, ia sedang bersedih karena tak bisa ikut baris-berbaris sebagaimana anak kecil seusianya.
Minggu lalu saya menyaksikan mata Tika yang sembab. Kebetulan, saya tinggal di sebelah rumahnya, sehingga bisa mengetahui apa kesedihan yang sedang melandanya. Ia harus menahan keinginannya ikut di ajang baris-berbaris karena semua siswa yang ikut diwajibkan untuk membayar biaya pakaian. Ayahnya yang berprofesi sebagai tukang batu, tak kuasa membayar biaya tersebut. Tika hanya bisa sembab.
Kemarin, saya menyaksikan baris-berbaris tersebut. Selama tiga hari di Kota Bau-Bau, mulai tanggal 11-13 Agustus, beberapa ruas jalan di kota kecil ini ditutup karena dilalui para peserta berbaris. Acara baris-berbaris ini diikuti tidak hanya oleh siswa SD, SMP maupun SMA. Namun, acara ini juga diikuti oleh semua organisasi baik karang taruna, dharma wanita, majelis taklim, karyawan instansi, hingga berbagai organisasi profesi. Saya memperkirakan sekitar separuh penduduk Bau-Bau ikut acara ini. Bayangkan saja, dalam sehari jumlah yang berbaris sangat banyak. Sejak acara dimulai pada pukul 08.00 wita, hingga pukul 14.00 wita, acara belum berakhir, saking banyaknya peserta berbaris. Dan pada hari ke-3, jumlah peserta berbaris kian membeludak. Jika dalam satu barisan, jumlah pesertanya hingga sekitar 30 orang, maka bayangkanlah berapa peserta berbaris jika terdapat sekitar 3.000 barisan. Jumlah yang fantastis.
Para peserta berbaris rata-rata mengenakan pakaian yang unik dan mencolok mata. Untuk pakaian tersebut, mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Di sekolah Tika, siswa yang ikut berbaris harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 35.000 (sebuah biaya yang tidak disanggupi Tika). Jumlah itu tidak seberapa jika seberapa jika dibandingkan dengan biaya yang dibebankan siswa sekolah lain. SD 2 Bau-Bau yang terletak di kawasan perkotaan, mematok biaya sekitar Rp 400.000. Jumlah yang cukup besar hanya untuk acara berbaris yang dijalani cuma sekitar tiga jam lebih.
Pengeluaran untuk Dharma Wanita atau Majelis Taklim bisa jauh lebih besar. Maklumlah, kadang mereka membeli busana muslim yang lengkap mulai dari aksesori jilbab hingga kain panjang yang seragam. Jika harga pakaian itu bisa Rp 500.000, maka mereka akan mengeluarkan uang sampai segitu. Itu belum termasuk biaya sepatu baru, topi atau jilbab, serta kadang-kadang selendang. Intinya adalah baris-berbaris adalah aktivitas yang banyak menghabiskan uang.
Awalnya, saya tak habis pikir, Ngapain harus mengeluarkan duit yang sebegitu besar untuk sesuatu yang “tak jelas”? Hanya demi berjalan kaki berpanas-panas di tengah kota, kemudian menghormat di depan wali kota? Saya sering menanyakan hal itu. Saat menyaksikan acara tersebut, saya sempat mendengar dialog seorang guru –yang mengiringi siswanya yang berbaris—dengan warga. “Ini demi nasionalisme. Cuma setahun sekali acara ini digelar. Makanya kita harus semangat sebagai bentuk kecintaan kepada bangsa ini,” kata guru tersebut dengan yakin.
Saya tak percaya dengan penuturan guru itu. Bagiku, wacana nasionalisme dalam baris-berbaris di kampung seperti Bau-Bau adalah wacana usang. Orang tak pernah tahu apakah makna nasionalisme. Indonesia tidak lebih dari sebuah imajinasi yang diajarkan di sekolah dan disakralkan dalam sebuah upacara bendera. Indonesia tak lebih dari ingatan-ingatan tentang negeri berbendera merah putih dan kita hanyalah sekrup kecil yang menjadi bagian dari mesin besar bernama negara. Kita tak punya nasionalisme sebagaimana rumusan Goenawan Mohamad yaitu “perasaan yang menggumpal dan bergejolak dalam diri ketika melihat bendera merah putih dinaikkan, rasa hati yang haru tak bertepi ketika mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan.”
Lantas, jika nasionalisme adalah sebuah konsep yang abstrak di kepala, apakah makna baris berbaris? Saya lebih melihatnya sebagai sebuah pesta besar di mana semua warga bisa terlibat di dalamnya. Bagi warga Bau-Bau, berbaris adalah kegiatan di mana kita berdandan sebaik mungkin, secantik mungkin, kemudian berjalan secara rapi dan berirama di tengah kota. Jalanan raya yang dilalui oleh pserta berbaris ibarat sebuah catwalk yang sangat panjang, di mana kita berjalan teratur melewatinya dan disaksikan ribuan pasang mata warga yang menyaksikannya. Berbaris adalah sebuah pesta besar di mana semua orang tua ingin menyaksikan anaknya berdandan kemudian disaksikan secara bersama-sama. Ada pujian, ada tepuk tangan, serta jari yang menunjuk bangga seraya berkata,”Itu anakku.”
Yang menarik bagiku adalah pakaian yang dikenakan kelompok pemuda maupun karang taruna. Pakaian mereka sangat unik dan bercirikan generasi muda perkotaan yang gaya dan trendy. Jika banyak barisan yang berpakaian seragam, maka mereka berpakaian kreasi yang unik-unik. Misalnya baju kaos yang dipadu dengan dasi serta kaca mata hitam, atau pakaian remaja putri yang seksi berupa rok mini dipadu stoking yang kemudian menampakkan kakinya yang mulus. Malah, banyak barisan yang rambut semua pesertanya diberi warna-warni yang mencolok. Gaya mereka juga unik. Jika banyak barisan yang berbaris kaku dan menatap lurus ke depan, maka gaya anak muda itu sangatlah dinamis. Mereka tak mau kaku. Jika ada yang menyapa di jalan, mereka balas menyapa. Jika barisan berhenti, mereka tak mau berdiri diam kayak patung, namun berdiri dengan santai, malah sesekali berbincang dengan temannya di sekeliling.
Seminggu sebelum acara berbaris, hampir setiap jengkal di jalan raya, ada saja yang sedang latihan berbaris. Para peserta sibuk latihan kemudian berdiskusi hendak mengenakan kostum seperti apa. Saya jadi ingat Festival Fashion Jember yang diklaim sebagai festival mode yang terbesar di negeri ini. Festival itu hampir mirip dengan festival yang ada di Brasil. Semacam arak-arakan mode di mana semua orang menampilkan desain terbarunya. Di ajang ini, banyak warga yang berdandan dan memamerkan koleksi terbarunya di rute jalan raya yang sangat panjang. Mereka berlenggak-lenggok seperti peragawati yang hadir dengan pakaian yang indah. Mereka bergembira dengan pakaian kreasinya tersebut.
Lantas, apakah baris-berbaris di Bau-Bau sama persis dengan festival di Jember? Menurutku tidak sama persis, namun banyak bagian yang mirip. Baris-berbaris itu menympan dua makna bagi warga. Pertama, sebagai sebuah pesta besar di mana semua orang ingin berpartisipasi dan disaksikan. Kedua adalah sebagai arena menampilkan identitas. Sebagaimana halnya dandanan anak muda yang unik-unik itu, mereka sedang menampilkan identitas diri mereka. Mereka seakan berteriak “inilah aku.” Jika dianalisis lebih jauh, kesertaan warga di ajang berbaris ini, maka mereka sesungguhnya sedang melakukan resistensi (perlawanan) kultural terhadap negara. Mereka sedang membangun wacana tanding tersendiri yang berada di luar mainstream negara. Jika negara punya wacana nasionalisme, maka warga punya wacana lain yaitu tampil di catwalk, serta arena unjuk identitas.(*)
Pulau Buton, 13 Agustus 2008
Beragam Gaya di Ajang Baris-Berbaris
ADA beragam tingkah gaya yang sempat saya rekam dengan kamera pinjaman dari suami adikku. Saya akan menampilkan berbagai gaya tersebut. Sebenarnya, ada banyak moment yang jauh lebih menarik dari yang sempat saya potret ini, namun saya lelah berdiri menyaksikan begitu banyak barisan. Tanpa mau repot, saya hanya memotret beberapa yang sempat saya saksikan. Inilah beberapa yang menarik.

Foto di atas adalah foto seorang gadis yang juga ikut berbaris dengan mengenakan pakaian kreasi yang trendy dan menampilkan kesan sebagai anak muda yang modis. Rambutnya dicat merah, mengenakan stoking hingga menampakkan kakinya yang mulus. Sengaja saya tidak potret teman-temannya, karena menurutku gadis ini yang paling manis.

Kalau foto di atas ini, saya juga suka. Barisan pemuda dengan pakaian yang unik. Bajunya kaos biru serta dasi yang menarik. Ketika sang komandan berteriak, “Maju jalan!!!”, maka semua anggotanya akan menjawab,”Asyikkk!!!!”

Melihat foto ini, saya suka senyum-senyum sendiri. Saya teringat gayaku saat masih kecil dan ikut acara berbaris. Sepanjang perjalanan, saya menatap lurus ke depan, tanpa sedikitpun menoleh meski dipanggil seseorang. Saya seperti militer yang kaku dan taat perintah. Siap!!!!

Foto ini menampilkan siswa SMP yang mengenakan pakaian kreasi. Dandanannya serba kuning, bahkan lipsticknya juga berwarna kuning. Aneh juga ya….

Kalau foto ini, tak ada yang istimewa. Foto dari barisan majelis taklim yang ingin meramaikan acara. Menurutku, secara teknis, foto ini biasa-biasa saja. Tapi tak apa ditampilkan di blog ini.
Foto di atas adalah foto seorang gadis yang juga ikut berbaris dengan mengenakan pakaian kreasi yang trendy dan menampilkan kesan sebagai anak muda yang modis. Rambutnya dicat merah, mengenakan stoking hingga menampakkan kakinya yang mulus. Sengaja saya tidak potret teman-temannya, karena menurutku gadis ini yang paling manis.
Kalau foto di atas ini, saya juga suka. Barisan pemuda dengan pakaian yang unik. Bajunya kaos biru serta dasi yang menarik. Ketika sang komandan berteriak, “Maju jalan!!!”, maka semua anggotanya akan menjawab,”Asyikkk!!!!”
Melihat foto ini, saya suka senyum-senyum sendiri. Saya teringat gayaku saat masih kecil dan ikut acara berbaris. Sepanjang perjalanan, saya menatap lurus ke depan, tanpa sedikitpun menoleh meski dipanggil seseorang. Saya seperti militer yang kaku dan taat perintah. Siap!!!!
Foto ini menampilkan siswa SMP yang mengenakan pakaian kreasi. Dandanannya serba kuning, bahkan lipsticknya juga berwarna kuning. Aneh juga ya….
Kalau foto ini, tak ada yang istimewa. Foto dari barisan majelis taklim yang ingin meramaikan acara. Menurutku, secara teknis, foto ini biasa-biasa saja. Tapi tak apa ditampilkan di blog ini.
Pemkot Bau-Bau yang Diksriminatif
SUDAH hampir setahun urusan pindah kerja adikku Atun dari Dinas Kehutanan Kolaka ke Dinas Kehutanan di Bau-Bau tak juga kelar. Urusannya begitu rumit, dan harus menemui pejabat mulai tingkat bawah hingga ke tingkat atas. Namun, ia sudah coba mengikuti prosedur tersebut. Saat berkasnya sudah sampai di tangan Wali Kota Bau-bau Amirul Tamim, berkasnya seakan lenyap dan tak berbekas. Menurut info sekretaris wali kota, hingga kini berkas itu masih ditahan wali kota yang katanya enggan menandatangani. Kami hanya mendengar dari staf sekretariat kota
Saya bisa paham kalau alasan keengganan itu adalah karena alasan rasional berupa beban APBD. Masalahnya, kenapa pegawai lain dengan mudahnya masuk Bau-Bau, sementara adikku kesulitan? Kenapa alasan itu tidak mengikat semua orang, sementara mereka yang punya akses langsung atau tim sukses justru dengan mudahnya melenggang dan melabrak semua aturan itu. Kata seorang teman, bisa-bisa urusan kami akan lebih lama, karena kami mengikuti jalur yang formal, dan bukan lewat channel tertentu. Belakangan, saya dapat info bahwa pegawai lain tersebut dikenal dekat dengan sang wali kota, atau pegawai itu, memiliki channel berupa pejabat atau tim sukses yang punya akses langsung. Saya sih mau saja lewat calo biar urusan adikku lancar, cuman masalahnya, siapa dan apakah calo tersebut sanggup meenuhi permintaan tanpa segepok duit di tangannya? Untuk itu, kami tak punya biaya.
Akhirnya, saya berpikir, bahwa inilah watak diskriminatif birokrasi kita. Seolah-olah ideal dan mengayomi semua rakyat, padahal sedan melestarikan oligarki kekuasaan. Dalam khasanah politik, oligarki adalah kekuasaan yang hanya dimiliki golongan tertentu. Seperti kisah kerajaan, maka ologarki ada di tangan sejumlah bangsawan. Mereka melestarikan kuasa dan hanya membuka akses bagi mereka yang dekat dengan mereka. Inilah potret birokrat kita. Potret seorang Amirul Tamim.(*)
Saya bisa paham kalau alasan keengganan itu adalah karena alasan rasional berupa beban APBD. Masalahnya, kenapa pegawai lain dengan mudahnya masuk Bau-Bau, sementara adikku kesulitan? Kenapa alasan itu tidak mengikat semua orang, sementara mereka yang punya akses langsung atau tim sukses justru dengan mudahnya melenggang dan melabrak semua aturan itu. Kata seorang teman, bisa-bisa urusan kami akan lebih lama, karena kami mengikuti jalur yang formal, dan bukan lewat channel tertentu. Belakangan, saya dapat info bahwa pegawai lain tersebut dikenal dekat dengan sang wali kota, atau pegawai itu, memiliki channel berupa pejabat atau tim sukses yang punya akses langsung. Saya sih mau saja lewat calo biar urusan adikku lancar, cuman masalahnya, siapa dan apakah calo tersebut sanggup meenuhi permintaan tanpa segepok duit di tangannya? Untuk itu, kami tak punya biaya.
Akhirnya, saya berpikir, bahwa inilah watak diskriminatif birokrasi kita. Seolah-olah ideal dan mengayomi semua rakyat, padahal sedan melestarikan oligarki kekuasaan. Dalam khasanah politik, oligarki adalah kekuasaan yang hanya dimiliki golongan tertentu. Seperti kisah kerajaan, maka ologarki ada di tangan sejumlah bangsawan. Mereka melestarikan kuasa dan hanya membuka akses bagi mereka yang dekat dengan mereka. Inilah potret birokrat kita. Potret seorang Amirul Tamim.(*)
Pulau Buton, 12 Agustus 2008
Simbol Budaya Buton di Kemah Pramuka
HARI ini saya melintas di lapangan yang dulunya merupakan Stadion Betoambari Bau-Bau. Ternyata, di lapangan itu sedang digelar perkemahan besar dan menghadirkan banyak anggota Pramuka se-Kota Bau-Bau. Ratusan anggota Pramuka baik SD, SMP, maupun SMA berkemah selama tiga hari di situ. Mereka tampak riang gembira dan menikmati suasana itu seperti sebuah petualangan baru, bertemu teman baru, hingga bersenang-senang.
Saya pernah merasakan bagaimana perasaan mereka. Masa-masa itu sangatlah menyenangkan sebab hasrat petualangan kita seakan terpenuhi dengan mengikuti ajang tersebut. Jiwa kita yang hendak melanglangbuana tiba-tiba menemukan medan penjelajahan baru. Apa sih yang paling menyangkan bagi seorang remaja kecuali bertemu tantangdan dan keasyikan baru. Saat melintas, saya sempat menghentikan motor dan menyaksikan mereka yang sedang tertawa-tawa gembira. Begitu banyak tenda berdiri dengan beragam aksesoris, mulai dari tempat memasak, bendera, hingga menara. Tiba-tiba, saya menyaksikan tenda yang di depannya ada papan bertuliskan “Gudep Mardhana Ali, SDN Puma”. Depan tenda SD Gonda, saya lihat papan bertuliskan “Gudep Oputa Yi Koo”. Lain lagi di depan tenda dari Madrasah Tsanawiyah, saya menyaksikan papan bertuliskan “Gudep Sayid Abdul Wahid.” Saya banyak menemukan simbol nanas. Malah, saya menyaksikan replika patung naga yang sangat besar terdapat di sudut lapangan, dekat satu tenda.
Bagi mereka yang tak paham sejarah dan kebudayaan lokal, mereka akan melihat simbol itu dengan tatap kebingungan. Namun mereka yang riset emik dan live in (menyatu) dalam masyarakat Buton, pasti memahami bahwa kebudayaan sedang beroperasi dalam pikiran mereka yang remaja itu. Pasti orang akan memahami bahwa ada konsep-konsep kultural yang mengorganisasikan pikiran dan menjadi kompas yang mempengaruhi tindakan di masa kini.
Saya bisa paham kenapa siswa di Puma (singkatan dari Pulau Makassar atau daerah Liwuto, pulau kecil depan Pulau Buton) memasang nama Mardhana Ali. Mereka mengidolakan sosok Mardhan Ali, yang merupakan seorang Sultan Buton yang dijerat perairan dekat kampung mereka. Mardhana Ali dituduh selingkuh dan melabrak norma ksultanan, namun bagi orang Puma itu hanya fitnah atas ketampanan, popularitas dan kesaktian Mardhana Ali, yang disapa La Cila. Lain lagi dengan siwa di Gonda. Nama Oputa Yi Koo masih menjadi pahlawan sebab sultan –yang nama kecilnya adalah La Karambau— memiliki istri yang berasal dari Wakokili, yang terletak tak jauh dari Gonda. Mereka bangga karena Oputa Yi Koo adalah seorang hero yang tumbuh dari kebudayaan mereka yang kemudian menjelma menjadi role model bagi kehidupan mereka di hari ini. Seorang sultan yang hidup tahun 1600, memiliki magis yang melintasi zaman hingga masa ketika sejumlah remaja melakukan perkemahan di lapangan pada tahun 2008.(*)
Saya pernah merasakan bagaimana perasaan mereka. Masa-masa itu sangatlah menyenangkan sebab hasrat petualangan kita seakan terpenuhi dengan mengikuti ajang tersebut. Jiwa kita yang hendak melanglangbuana tiba-tiba menemukan medan penjelajahan baru. Apa sih yang paling menyangkan bagi seorang remaja kecuali bertemu tantangdan dan keasyikan baru. Saat melintas, saya sempat menghentikan motor dan menyaksikan mereka yang sedang tertawa-tawa gembira. Begitu banyak tenda berdiri dengan beragam aksesoris, mulai dari tempat memasak, bendera, hingga menara. Tiba-tiba, saya menyaksikan tenda yang di depannya ada papan bertuliskan “Gudep Mardhana Ali, SDN Puma”. Depan tenda SD Gonda, saya lihat papan bertuliskan “Gudep Oputa Yi Koo”. Lain lagi di depan tenda dari Madrasah Tsanawiyah, saya menyaksikan papan bertuliskan “Gudep Sayid Abdul Wahid.” Saya banyak menemukan simbol nanas. Malah, saya menyaksikan replika patung naga yang sangat besar terdapat di sudut lapangan, dekat satu tenda.
Bagi mereka yang tak paham sejarah dan kebudayaan lokal, mereka akan melihat simbol itu dengan tatap kebingungan. Namun mereka yang riset emik dan live in (menyatu) dalam masyarakat Buton, pasti memahami bahwa kebudayaan sedang beroperasi dalam pikiran mereka yang remaja itu. Pasti orang akan memahami bahwa ada konsep-konsep kultural yang mengorganisasikan pikiran dan menjadi kompas yang mempengaruhi tindakan di masa kini.
Saya bisa paham kenapa siswa di Puma (singkatan dari Pulau Makassar atau daerah Liwuto, pulau kecil depan Pulau Buton) memasang nama Mardhana Ali. Mereka mengidolakan sosok Mardhan Ali, yang merupakan seorang Sultan Buton yang dijerat perairan dekat kampung mereka. Mardhana Ali dituduh selingkuh dan melabrak norma ksultanan, namun bagi orang Puma itu hanya fitnah atas ketampanan, popularitas dan kesaktian Mardhana Ali, yang disapa La Cila. Lain lagi dengan siwa di Gonda. Nama Oputa Yi Koo masih menjadi pahlawan sebab sultan –yang nama kecilnya adalah La Karambau— memiliki istri yang berasal dari Wakokili, yang terletak tak jauh dari Gonda. Mereka bangga karena Oputa Yi Koo adalah seorang hero yang tumbuh dari kebudayaan mereka yang kemudian menjelma menjadi role model bagi kehidupan mereka di hari ini. Seorang sultan yang hidup tahun 1600, memiliki magis yang melintasi zaman hingga masa ketika sejumlah remaja melakukan perkemahan di lapangan pada tahun 2008.(*)
Pulau Buton, 12 Agustus 2008
Wednesday, August 06, 2008
Bersantai di Bukit Kolema
ADA tiga tempat wisata yang dibuka di Bau-Bau yaitu Bukit Kolema, Bukit Wantiro, dan Air jatuh. Ketiganya berdekatan dan terletak di jalan menuju Bungi. Bukit Kolema dan Wantiro berupa tempat istirahat atau duduk-duduk yang menghadap ke laut hingga nampak Pulau makassar di depan mata. Berada di dua tempat ini, kita seakan duduk di sebuah singgasana besar yang menghadap laut hingga nampak panorama yang sangat indah. Sebegitu indahnya melihat laut lepas dari singgasana di ketinggian, hingga saya selalu berdecak kagum setiap melihatnya. Foto di atas diambil ketika saya sedang santai di Buklit Kolema.
Kolema bermakna tempat tidur, sebab di bawah tempat tersebut, terdapat gua yang dulunya menjadi tempat istirahat bagi nelayan ketika lelah melaut. Di dalam gua atau di bawah batu besar itu, mereka bisa berbaring di batu yang mirip ranjang dan jika haus, mereka minum dari sumber air tawar yang ada di situ. Kini, terdapat tangga turun untuk melihat tempat tersebut.(*)
